5/5 (1,591)

 Home Daftar Isi
| BERANDA | Anggota | Pos Terbaru |
———-—>  Buat-Pos | profil

RATU ZALECHA WARISI...
 

RATU ZALECHA WARISI KERAJAAN TANPA TAKHTA DAN ISTANA  


Adi123
Posts: 164
(@adi123)
Anggota Diperkirakan di tvtrans7 forum
Joined: 1 bulan ago

RATU ZALECHA
WARISI KERAJAAN TANPA TAKHTA
DAN ISTANA

PASCA gugurnya DYMM Sultan Muhammad Seman, Panglima Batur, diasingkannya Gusti Muhammad Arsyad ke Bogor oleh Belanda dan tertangkapnya Antung Kwing/Kuwin

Ratu Zalecha kembali meneruskan perjuangan melawan Belanda.
PERJUANGAN dengan angkat senjata melawan pasukan Belanda dipimpin langsung Ratu Zalecha. Sang ratu mewarisi kerajaan yang tidak bertakhta dan beristana.
Kodrat sebagai perempuan keturunan aristokrat anak dan cucu seorang pejuang menyebabkan Ratu Zalecha sadar akan tugas pentingnya. Dia harus meneruskan perlawanan untuk mengusir penjajah.
Kakek dan ayahnya gugur demi membela Tanah Banjar, suami dan kakak iparnya diasingkan di Bogor dan Manado. Ratu Zalecha tidak lagi mempunyai pelindung dalam setiap perjuangannya. Perlawanan terus diteruskan dengan pasukan yang masih setia seperti pasukan suku Banjar dan suku Dayak.

Salah satu strategi Ratu Zalecha adalah dengan mengecoh dan menahan kiriman bahan makanan ke pos-pos Belanda. Perlawanan terus dilakukan dengan pasukan yang masih setia yang didukung oleh gerilyawan-gerilyawan Suku Dayak Siang, Ngaju, Bakumpai dan orang Banjar itu sendiri yang berjuang dari kejaran dan serangan Belanda.
Serdadu Belanda selalu menyerang pada beberapa tempat yang ternyata telah diketahui oleh pasukan Belanda sebagai tempat persembunyian dari pasukan Ratu Zalecha.

Pasukan Marsose Belanda akhirnya mengetahui tempat persembunyian Ratu Zalecha dan pasukannya. Hal ini tidak terlepas dari peranan pribumi sendiri yg biasa di sebut (Walanda Hirang/Londo Ireng) mengkhianati
Perjuangan Ratu Zalecha demi imbalan emas maupun jabatan dalam pemerintahan Hindia Belanda.
Untuk menghindari serangan dari pasukan Belanda dan mengatasi kejaran dari pasukan Belanda yang dibantu pribumi, Ratu Zalecha bersama pasukannya bergerilya dan sering berpindah-pindah tempat guna menghindari serangan mendadak dari pasukan musuh.
Ratu Zalecha bersama pasukannya melakukan perjalanan long march dari Manawing ke Lahai selanjutnya Mia, sebuah perkampungan pertanian di tepi Sungai Teweh yang dianggapnya sebagai tempat yang paling aman karena tempatnya yang sulit didatangi orang luar, terlebih pasukan Belanda.

Dengan kondisi alam yang sulit untuk dilalui, tidak membuat pasukan Belanda menyerah untuk terus mengejar Ratu Zalecha dan pasukannya. Dengan bantuan para pengkhianat Marsose, pasukan Belanda akhirnya dapat menuju perkampungan Mia tersebut.
Dengan kekuatan fisik yang tersisa, Ratu Zalecha dan pasukannya melakukan perlawanan. Dengan kekuatan tentang ilmu perang yang dipelajarinya dari ayah dan suku Dayak, pertempuran dimenangkan oleh Ratu Zalecha dan pasukannya meskipun haru bersusah payah.
Korban berjatuhan baik dari pihak Belanda maupun dari pihak Ratu Zalecha. Keadaan sudah sangat kritis, pihak Belanda meminta agar Ratu Zalevha menyerah saja dan akan mendapatkan ganjaran materi menggiurkan.
Dengan semangat warisan kakeknya, Panembahan Amirud-dien Chalifatul Mukminin atau Pangeran Antasari yaitu “ haram manyarah, waja sampai ka putting ,” Ratu Zaleha dengan tegas menolak tawaran tersebut dan dengan kekuatan yang masih ada, ia dan pasukannya terus melakukan perlawanan.

Pertempuran tidak terhindarkan pun terjadi. Ratu Zalecha tampil ke tengah tengah pertempuran, dari dalam sebuah rumah dengan cara melompat dari jendela. Ia tampil di antara mayat yang jatuh bergelimpangan dan berlumuran darah. Di tengah perlawanan Ratu Zalecha, serdadu Marsose Belanda terus menggempur dengan desingan peluru.
Peluru dari serdadu Belanda hanya dapat mengenai rambut dari Ratu Zalecha yang membuat lepas gelungan rambutnya. Dari kepungan serdadu Belanda, Ratu Zalecha dapat melarikan diri sambil menggendong seorang putera tiri, anak dari suaminya yaitu Gusti Muhammad Arsyad dengan isteri lain. Kemungkinan besar anak yang digendong Ratu Zalecha tersebut adalah anak dari suaminya Goesti Arsat/Gusti Muhammad Arsyad dengan istri kedua, yang dikenal dengan Goesti Oedit.
Kalau dibandingkan dengan sumber penulis lokal, dituliskan suami dari Ratu Zalecha yaitu Gusti Muhammad Arsyad memiliki empat orang isteri. Ratu Zalecha sendiri merupakan isteri pertama dari Gusti Muhammad Arsyad.
Masing-masing nama dari Isteri Gusti Muhammad Arsyad adalah Gusti Zalecha atau kemudian lebih dikenal dengan nama Ratu Zalecha karena memimpin langsung pasukan melawan pasukan Belanda. Kedua adalah Gusti Halimah, ketiga Gusti Bintang dan keempat adalah Gusti Arpiah. Goesti Oedit yang dituliskan dalam sumber Koran Belanda tersebut kemungkinan besar adalah Gusti Halimah.
Dengan sekuat tenaga dan pakaian yang kotor dan compang camping serta lengan kanan yang terluka terkena peluru, dengan semangat perjuangan yang sangat tinggi, Ratu akhirnya dapat melarikan diri dari serangan serdadu Belanda.
Strategi perjuangan Ratu Zalecha yang selalu berpidah-pindah. Tidak menetap di satu tempat saja. Keluar masuk hutan dan mendaki gunung dengan medan yang sulit guna mengecoh pasukan Belanda dan beberapa kali berhadapan langsung dengan pasukan Belanda.
Pada sumber lain dituliskan bahwa dalam suatu medan perang di lembah Barito, Ratu Zalecha terkepung pasukan Belanda. Hutan di sekitarnya dibakar oleh pasukan Belanda hingga menjadi lautan api.
Di bawah desingan peluru dan kepungan api yang membakar, Ratu Zalecha keluar mempertahankan hidupnya yan terakhir. Rambutnya yang cukup panjang dan disanggul rapi tela putus diterjang peluru.

Sedang lengannya yang kiri ditembus pula oleh peluru yang lain sehingga badannya bergelimang darah. Baju dan celana compang-camping, darahnya mengalir membasahi tubuh, namun air matanya tak pernah jatuh setetes pun menyesali perjuangannya itu.
Wasiat almarhum ayahsnda dan suaminya sebelum masuk perangkap Belanda tetap dipegang teguh. Untuk sementara Ratu Zalecha dapat meloloskan diri dari kepungan maut peluru dan api yang dahsyat.
Dalam beberapa kesempatan adu tanding yang melibatkan Ratu Zalecha langsung berhadap-hadapan dengan pasukan Belanda. Adu tanding selalu menempatkan Ratu Zalecha di pihak pemenang dan kerap lolos atau melarikan diri dari pasukan Belanda.
Wajar bila masyarakat dan pasukannya yang melihat dan mengetahui perjuangan Ratu Zalecha, beranggapan jika dia kebal terhadap segala senjata yang menghujamnya. Dengan keteguhan hati Ratu Zalecha, ia mampu mengatasi tantangan-tantangan alam maupun serangan dari pihak lawan.
Dalam proses pengejaran, pasukan serdadu Belanda terus melakukan tekanan dan kejaran untuk melemahkan fisik dari Ratu Zalecha dan pasukannya. Selain itu, pasukan Belanda juga melakukan strategi menutup akses makanan dan senjata guna melemah-kan pasukan Ratu Zaleha. Dengan strategi ini, pihak Belanda akan dengan mudah mengalahkan pasukan yang dipimpinnya.
Perlawanan bersenjata yang dipimpin langsung oleh Ratu Zalecha setelah ayahnya meninggal hanya bisa bertahan selama satu tahun yaitu dari tahun 1905 sampai 1906. Walaupun demikian, satu tahun bukanlah waktu yang singkat. Memimpin pasukan perlawanan bersenjata tidaklah mudah.
Dengan sisa-sisa kegigihan dan motivasi berjuang yang ada, Ratu Zalecha bersama pasukannya mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk melawan pasukan marsose Belanda. Dibarengi dengan kondisi fisik lemah dan tidak memiliki pasokan makanan cukup, persenjataan minim, serta jumlah masukan yang kurang memadai membuat kekuatan perjuangan Ratu Zaleha makin melemah.

Source : JejakRekam
Penulis : Sammy 'xnyder Istorya

 

1562590156-FB_IMG_1562590092699.jpg






forum tvtrans7 tvtrans7.com tv trans 7 tv trans7
Kebijakan Privasi ] [ Tentang Kami ] [ Peraturan Forum ] [ Hubungi Kami ]
forum tv trans 7
Copyright : 2017 / 2019 Forum Media Online indonesia TvTrans7 – Support By Forum Indonesia
forum tv trnas 7

Silakan nilai Forum TVTRANS7